MediumPos
Untuk Ummat Kami Sampaikan

Setelah Viralnya Isu Rimbang Baling, Bagaimana Nasib Hutan Lindung Bukit Suligi?

~ Ada Indikasi Pembiaran?

MP, ROHUL – Maraknya deforestasi hutan yang dilakukan untuk perluasan lahan perkebunan sawit semakin menimbulkan kekhawatiran, tak terkecuali di wilayah Rokan Hulu (Rohul), khususnya di kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi.

Deforestasi ini telah menyebabkan hilangnya sejumlah kawasan hutan primer yang sangat berharga, terutama di daerah tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, luas tutupan hutan di kawasan ini terus mengalami penurunan signifikan dan berubah menjadi lahan perkebunan. Akibatnya, fungsi ekologis hutan sebagai penyangga daya dukung dan daya tampung lingkungan, termasuk aliran sungai, ikut terdegradasi.

Kerusakan hutan di Bukit Suligi diduga kuat akibat adanya pembiaran oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kontrol dan pengawasan terhadap kawasan hutan ini dinilai lemah, bahkan seolah diabaikan. “Pemerintah seharusnya mengontrol dan mengawasi keberlangsungan hutan milik negara, bukan justru menjadi bagian dari kerusakan paru-paru bumi ini,” ujar Andhi Harianto, Sekretaris Jenderal Pemuda Tri Karya (PETIR).

Dia juga menyoroti lemahnya pengawasan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Suligi Batu Gajah dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau. Keduanya, menurut Andhi, seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan, apalagi mereka memiliki kewenangan atas izin-izin kehutanan di wilayah tersebut.

“Fakta di lapangan, hutan kita justru habis dijarah, dirusak oleh oknum maupun korporasi. Apakah masyarakat biasa bisa memiliki lahan puluhan hingga ratusan hektare? Ini menjadi pertanyaan besar,” tambahnya.

Andhi menilai viralnya isu terbaru mengenai perambahan hutan adalah bukti nyata rusaknya sistem pengawasan dan penindakan. Apakah benar perambahan itu baru diketahui setelah viral? Jika demikian, kemana selama ini aparat dan instansi yang digaji untuk menjaga hutan?

Andhi juga menekankan pentingnya evaluasi ulang terhadap peraturan terkait pengelolaan hutan, agar wilayah-wilayah yang seharusnya dilindungi benar-benar ditetapkan dan dijaga sebagai kawasan konservasi.

“Saya khawatir Hutan Bukit Suligi hanya akan tinggal nama. Jika pembiaran ini terus terjadi, seluruh kawasan akan habis dirusak oleh segelintir orang dan korporasi. Dampaknya tidak hanya sekarang, tapi juga akan dirasakan anak cucu kita di masa depan,” tutupnya. * (rls/Fadly)

5 / 100 Skor SEO

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.