MediumPos
Untuk Ummat Kami Sampaikan

Setahun Memimpin, Afni-Syamsurizal Benahi Siak dari Utang Rp231,7 M hingga Pacu Infrastruktur

MP, SIAK SRI INDRAPURA – Genap satu tahun menakhodai Kabupaten Siak, pasangan Bupati dan Wakil Bupati, Afni-Syamsurizal, langsung dihadapkan pada ujian loyalitas publik yang tidak ringan.

Memasuki medio Juni, duet kepemimpinan ini harus menari di antara roda pembangunan yang wajib terus berputar dan jerat beban fiskal masa lalu yang menyandera keuangan daerah.

Selain harus beradaptasi dengan kebijakan pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat, pemerintah daerah juga memikul “warisan” utang yang nilainya fantastis: Rp326,94 miliar. Angka ini tercatat sebagai salah satu beban fiskal terbesar sepanjang sejarah berdirinya Kabupaten Siak.

Namun, alih-alih mengibarkan bendera putih, Afni-Syamsurizal memilih jalan taktis. Melalui strategi konsolidasi fiskal yang ketat, efisiensi anggaran, serta penataan birokrasi, nakhoda baru Negeri Istana ini terbukti mampu membalikkan keadaan.

Hasilnya monumental. Hanya dalam tempo 365 hari, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak sukses melunasi utang daerah sebesar Rp231,73 miliar. Langkah berani ini menjadi fondasi krusial demi memulihkan kesehatan keuangan daerah sekaligus menuntaskan kewajiban kepada pihak ketiga yang sempat tertunda.

Menjaga Kepercayaan, Memacu BUMD

Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, Mahadar, menegaskan bahwa penyelesaian utang merupakan komitmen mutlak kepala daerah. Bukan sekadar angka di atas kertas, kebijakan ini menyangkut marwah pemerintah dan hajat hidup para mitra kerja.

“Fokus dan komitmen Pemkab Siak sesuai arahan Ibu Bupati dan Bapak Wakil Bupati adalah tetap memprioritaskan pembayaran utang, karena ada nasib pihak ketiga di sana. Di saat yang sama, BUMD juga wajib *rebound*. Kami optimistis melalui disiplin fiskal dan peningkatan PAD, sisa kewajiban akan tuntas,” tegas Mahadar.

Langkah penyehatan ini dilakukan lewat diet anggaran yang ketat, mulai dari memangkas perjalanan dinas hingga merasionalisasi pos belanja non-prioritas. Tak sampai di situ, reformasi total diterapkan pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan merombak jajaran komisaris demi tata kelola yang bersih (good corporate governance).

Strategi ini berbuah manis. PT Bumi Siak Pusako (BSP), yang sebelumnya tertekan, sukses bangkit dan membukukan keuntungan sekitar Rp100 miliar. Geliat positif juga tampak di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB). Kawasan yang sempat stagnan ini kini mulai dilirik investor kakap, salah satunya ditandai dengan masuknya investasi industri galangan kapal bernilai ratusan miliar rupiah yang siap menyerap tenaga kerja lokal.

Infrastruktur dan Pelayanan Publik yang Pantang Mandeg

Hebatnya, di tengah ruang fiskal yang sempit, derap pembangunan infrastruktur dasar di Siak sama sekali tidak mengendur. Lewat kecerdikan melobi anggaran pusat, keterbatasan APBD berhasil disiasati.

Berikut adalah sejumlah capaian pembangunan fisik dan pelayanan publik yang berhasil direalisasikan dalam setahun terakhir:

  • Konektivitas Jalan:  Peningkatan jalan aspal sepanjang 4,3 kilometer di jalur strategis, termasuk ruas Sawit Permai–Teluk Merbau, Siak–Tumang, dan Jalan Poros Dusun Lubuk Miyam.
  • Sinergi APBN:  Melalui Program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD), rekonstruksi Jalan Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan sepanjang 1,195 kilometer kini dibangun menggunakan rigid beton dengan anggaran Rp15 miliar.
  • Perawatan & Fasilitas Lingkungan: Pemeliharaan jalan sepanjang 152,30 kilometer, semenisasi jalan pemukiman hampir 7 kilometer, serta normalisasi sungai sepanjang 77 kilometer sebagai antisipasi banjir.
  • Sanitasi dan Air Bersih: Perluasan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang sukses mengamankan dukungan APBN untuk jaringan perpipaan serta 498 sambungan rumah baru.

Sentuhan Sosial dan Keberpihakan pada Rakyat

Di sektor pelayanan dasar, duet Afni-Syamsurizal memastikan masyarakat tidak kehilangan haknya. Pelayanan kesehatan gratis tetap berjalan prima berkat sokongan pembangunan 6 Puskesmas Pembantu, peningkatan fasilitas di 17 Puskesmas dan pengembangan dua rumah sakit daerah.

Komitmen di bidang pendidikan pun terasa lebih inklusif dan berdampak ekonomi. Program pembagian dua pasang seragam sekolah gratis kepada lebih dari 13.000 siswa SD dan SMP sengaja melibatkan UMKM penjahit lokal.

Pola ini sukses menggerakkan roda ekonomi akar rumput. Berkolaborasi dengan Baznas Siak, jaring pengaman serupa juga menjangkau 1.300 siswa dari keluarga prasejahtera.

Bantuan sosial terus mengalir konsisten kepada keluarga penerima PKH, guru Madrasah Diniyah, penyandang disabilitas, lansia, hingga anak yatim. Di sektor agraris, ketahanan pangan Siak diperkuat lewat suntikan bantuan puluhan alat mesin pertanian (alsintan) dari pusat serta pembangunan jaringan irigasi bernilai lebih dari Rp70 miliar.

Wajah pelayanan publik yang humanis juga tercermin di jalan raya. Selain mengamankan 4 unit bus DAMRI untuk rute perintis baru, Pemkab Siak meluncurkan layanan ASIK (Angkutan Sekolah Istimewa untuk Anak Disabilitas Siak), sebuah afirmasi nyata bagi kelompok rentan.

Menatap Tahun Kedua

Tantangan ke depan memang belum sepenuhnya usai. Memasuki tahun kedua, Pemkab Siak masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyelesaikan sisa utang kegiatan tahun anggaran 2024 sekitar Rp95,2 miliar serta kewajiban berjalan.

Namun, rekam jejak 365 hari pertama ini telah mengirimkan sinyal optimistis.

Afni-Syamsurizal terbukti mampu membawa kapal Kabupaten Siak keluar dari badai krisis keuangan, menata ulang tata kelola pemerintahan, sekaligus meletakkan fondasi pembangunan yang kokoh demi kesejahteraan masyarakat Negeri Istana. * (infotorial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.