MP, PEKANBARU – Aktivis anti korupsi dan kritis terhadap ketidakadilan, Larshen Yunus memberikan klarifikasi kepada Ketua Harian Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) Provinsi Riau, Fajar Simanjuntak.
Sehari sebelumnya, Fajar bersama pengacara senior yang juga mantan Hakim AdHock, Syamsul Rakan Chaniago memberikan keterangan pers terkait ”sepak terjang” Larshen Yunus yang dinilai mengancam kerukunan lintas etnis.
Fajar Simanjutak yang dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, membenarkan bahwa memang ada pertemuan dengan Larshen Yunus.
”Tadi dia memang menemui saya untuk memberikan klarifikasi atas tudingan beberapa pihak terkait,” akunya.
Setelah mendengar penjelasan dari Larshen, Fajar Simanjuntak memberikan nasihat, sebelum mengeluarkan statement di media massa atau media online lebih mengedepankan asas praduga tak bersalah. Jangan tendesius dan mengarah kepada tokoh masyarakat tertentu.
“Sepanjang dugaan permasalahan yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak membawa-bawa SARA, kita dukung langkah Larshen Yunus.,” ucapnya.
Namun, sebaliknya, jika menyalahi dan melanggar hukum silahkan laporkan dia ke aparat yang berwewenang.
Di tempat terpisah, Ketum DPN Independen Pembawa Suara Tranparansi (Inpest) Ir Ganda Mora MSi juga mendukung Larshen Yunus sebagai aktvis yang menyoroti kinerja lembaga, atau institusi pemerintah secara profesional, obyektif dan faktual.
”Setiap dugaan korupsi yang dilaporkan kepada aparat penegak hukum mesti sudah melalui proses observasi, analisis dan akurat dan mengedepankan asas praduga tak bersalah,” sarannya.
Namun, tambah Ganda, dirinya tidak setuju adanya tuduhan sekelompok tokoh masyarakat yang menyebut Larshen Yunus menyerempet masalah SARA.

”Saya tidak pernah mendengar Larshen ini menyinggung suku atau etnis tertentu. Selama ini dia banyak menyorot dan melaporkan dugaan korupsi,” kata Ganda lagi.
Larshen Yunus yang dijumpai terpisah membantah semua tudingan terhadap dirinya. Dia menduga ada pihak pihak yang mempelintir pernyataannya dan llau mengait-ngaitkan kepada sesuatu kerawanan bernuansa SARA.
“Hidup mati perjuangan aktivis hanya untuk Negeri ini, untuk Riau, kampung halaman tercinta. Di atas keterbatasan yang kami miliki, tentu kami wakafkan diri ini dalam kegiatan-kegiatan positif. Kegiatan kami ini murni pengabdian, tanpa embel-embel apapun,” tutupnya. * (DW Baswir)