Oleh : Nadifa Filzah
(Mahasiswi S1 Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Riau)
SEJAK awal Pandemi Corona Virus Disease 19 (COVID-19) terjadi konflik antara memprioritaskan mengatasi pandemi dan menyelamatkan ekonomi.
Semua orang setuju bahwa kehidupan manusia adalah yang utama, jadi ide kami adalah untuk mengatasi COVID-19. Dengan begitu, COVID-19 akan meluas dan tidak memakan terlalu banyak korban serta berdampak pada perekonomian.
Blokade telah menjadi pilihan ekstrem, seperti yang terjadi di China dan beberapa negara adidaya. Namun, mengingat lemahnya ketahanan ekonomi sebagian besar penduduk Indonesia dan terbatasnya kapasitas anggaran pemerintah pusat dan daerah, ini bukan pilihan kami. Pilihan kita membatasi pergerakan kegiatan atau masyarakat melalui PSBB (Pembatasan Sosial Besar) dan sekarang menjadi PPKM.
Dampak serangan COVID-19 paling dirasakan oleh kalangan menengah ke bawah. Hal ini ditandai dengan naiknya angka kemiskinan untuk pertama kalinya sejak krisis 1998.
Banyak faktor yang menyebabkannya, termasuk turunnya harga minyak dunia. Tekanan besar. Belum lagi cuti besar-besaran yang dilakukan oleh banyak perusahaan yang dipertaruhkan akibat pandemi ini yang menambah jumlah pengangguran di Indonesia.
Beberapa perusahaan harus mengurangi investasi karena berkurangnya permintaan, gangguan pasokan, dan ketidakpastian prospek pendapatan di masa depan selama pandemi ini, dan sebagai hasilnya, beberapa perusahaan ini telah Kami memutuskan untuk memberhentikan pekerja untuk meminimalkan krisis yang mereka hadapi.
Dampak pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada industri manufaktur, tetapi juga sektor UMKM pasca April 2020.
Salah satu upaya pemerintah untuk memulihkan perekonomian nasional di masa pandemi Covid-19 adalah menggenjot sektor UMKM. Ini memainkan peran penting dalam perekonomian karena sejumlah besar pekerja yang terlibat langsung. Selain itu, jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai 64,19 juta, dan komposisi mikroelektronika (UMC) sangat dominan, yaitu setara dengan 64,13 juta (99,92%) dari seluruh sektor korporasi. Kelompok ini juga merasakan dampak negatif dari Pandemi COVID-19.
Dampak yang sangat nyata dan erat kaitannya dengan perekonomian nasional adalah turunnya investasi di berbagai sektor ekonomi. Investasi di bidang pariwisata, hiburan, seni dan budaya, perjalanan dan transportasi makanan sangat menuntut di DIY. Sekarang turun cukup drastis. Selain itu, PPKM membatasi perjalanan ke berbagai destinasi wisata. Sebagai contoh kecil runtuhnya investasi bisnis saat pandemi.
Kemungkinan Upaya Memulihkan Perekonomian Indonesia
Salah satu sarana yang ditawarkan adalah pembinaan UMKM. Sudah sepantasnya pemerintah fokus terutama pada UMKM sebagai bentuk korporasi yang menyumbang 99,99 persen dari seluruh pelaku ekonomi Indonesia.
Permasalahan UMKM adalah hilangnya pendapatan akibat kebijakan PSBB mengosongkan toko fisik dan mengurangi transaksi penjualan. Oleh karena itu, pembinaan dalam bentuk pelatihan dan dukungan dana dapat menjadi jawaban atas permasalahan UMKM.
Perhatian khusus dari pemerintah telah diberikan kepada sektor UMKM karena merupakan penyumbang PDB terbesar di Indonesia dan dapat menjadi kekuatan utama untuk menarik tenaga kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat dalam krisis seperti itu. Saya sangat membutuhkannya.
Upaya lain yang dapat dilakukan untuk membangun kembali sektor ekonomi Indonesia adalah pemberian bantuan langsung tunai (BLT) dengan menggunakan data terkini yang valid dan komprehensif, yang membatasi pembatasan kegiatan masyarakat dan membatasi kegiatannya. Protokol Kesehatan, liputan media yang terbuka dan bijak yang menyejukkan psikologi masyarakat.
Selain mempromosikan lingkungan investasi untuk pengambilan keputusan yang rasional dan revitalisasi budaya ekonomi melalui penggunaan teknologi digital (online).
Terakhir, penguatan kerjasama antar institusi, isu kelemahan ekonomi Indonesia mungkin terkait dengan peran masyarakat dan organisasi pemuda dalam pelatihan kehidupan bisnis untuk meningkatkan ekonomi lokal. **
Pekanbaru, 20 Desember 2021.