MP, PEKANBARU – Ketua Asosiasi Tour and Travel Agencies Indonesia (Asita) Riau menilai, pembangunan sektor pariwisata Bumi Lancang Kuning masih terkendala dua masalah infrastruktur klasik: jalan dan bandara. Tanpa perbaikan mendasar di kedua sektor ini, potensi wisata Riau dinilai sulit bersaing dengan daerah lain.
Hal itu diungkapkannya Ketua Umum DPD Asita Riau, Dede Firmansyah kepada Medium Pos di sela sela kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) organisasi yang ia pimpin di salah satu hotel berbintang di Pekanbaru, Senin (12/1/2026).
“Pemerintah fokus pada infrastruktur itu sudah bagus untuk sektor pariwisata Riau. Fokus aja membangun dan memperbaiki jalan,” sarannya.
Dede mengilustrasikan pentingnya infrastruktur jalan dengan menceritakan pengalaman Sandiaga Uno yang pernah bertanya kepada Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, tentang kunci kemajuan negaranya.
“Dia hanya bilang satu; saya buat highway dari ujung Johor sampai dekat Thailand. Nanti semua selesai sama masyarakat,” katanya menirukan.
Dede juga mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang fokus membangun jalan di kabupaten/kota. “Datang bule-bule itu melihat sawah-sawah di sana. Bagaimana strategi pemerintah daerah? Sekarang Jawa Barat mengupayakannya. Bagi kita, kalau tidak bisa satu kilometer ya, 500 meter. Dicicil lah anggaran itu,” lanjutnya.

Selain jalan, masalah besar lainnya adalah Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru. Asita menilai bandara yang menjadi entry point utama ini sudah tidak memadai karena landasan pacu yang tidak bisa menampung pesawat berbadan lebar (wide body) secara maksimal.
“Orang Medan sudah pindah dari Polonia ke Kuala Namu. Semua sudah bisa masuk pesawat besar,” kata Dede.
Ia memberikan contoh konkret dampaknya: salah satu maskapai, Lion Air, memiliki 10 titik penerbangan langsung ke Jeddah, Arab Saudi. “Hanya Riau yang singgah ke India dulu. Ini kan problem,” pungkasnya. Kondisi ini dinilai merepotkan calon jemaah haji dan umrah dari Riau serta menghambat kedatangan wisatawan mancanegara secara langsung.
Melalui Rakerda ini, Asita Riau secara resmi mendorong pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, untuk menjadikan perbaikan infrastruktur transportasi sebagai prioritas utama. Mereka yakin, dengan jalan yang baik dan bandara yang memadai, sektor pariwisata Riau akan mampu “berjalan sendiri” didorong oleh masyarakat dan pelaku usaha. * (DW Baswir)