MP, KAMPAR – Kawasan konservasi Kasang Kulim, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, cahaya matahari kini menjadi sumber harapan baru. Selasa (13/1/2026), PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Tenayan Raya Pekanbaru menyerahkan bantuan solar panel atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menopang kehidupan satwa-satwa yang dirawat di lokasi tersebut.
Penyerahan bantuan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi jawaban atas persoalan klasik yang selama bertahun-tahun menghantui kawasan Kubang, pemadaman listrik berkepanjangan. Hingga lima sampai enam jam, gelap pernah mematikan harapan, terutama bagi telur-telur satwa langka yang bergantung pada inkubator listrik.

Hadir dalam kegiatan tersebut PLH Manager Unit Pembangkitan Tenayan Raya Okky Kusuma Nugraha, Kabag TU BBKSDA Riau Laskar Jaya Permana, serta Agustina, perempuan tangguh yang kini meneruskan mimpi besar keluarganya sebagai pemilik Lembaga Konservasi Kasang Kulim.
“Ini bukan hanya soal listrik, tapi tentang keberlanjutan kehidupan,” ujar Okky. Melalui program Sobat Delta, PLN Nusantara Power mencoba menghadirkan solusi ramah lingkungan. PLTS disiapkan untuk menjaga klinik satwa dan inkubator tetap hidup, bahkan saat aliran listrik utama terputus.
Tak berhenti di sana, kepedulian PLN juga menyentuh aspek lain yang jarang tersorot. Sisa pembakaran batu bara atau fly ash bottom ash (FABA) dimanfaatkan sebagai bahan perbaikan kandang satwa. Material yang selama ini dianggap limbah, kini diubah menjadi kekuatan baru bagi konservasi.
“Dengan FABA, kami bisa mengurangi penggunaan pasir dan semen. Lebih hemat, lebih ramah lingkungan,” jelas Okky. Bahkan, material ini disiapkan untuk mendukung pembangunan kandang satwa besar, termasuk rencana kedatangan harimau Sumatera.
Satu langkah lain yang tak kalah penting adalah pengolahan limbah kotoran satwa. Limbah tersebut diformulasikan bersama FABA hingga berubah menjadi pupuk organik. Ratusan karung pupuk telah dihasilkan simbol bahwa dari sisa dan kotoran pun, kehidupan baru bisa tumbuh.
Di balik semua itu, tersimpan kisah panjang tentang keteguhan dan keyakinan. Agustina mengenang perjalanan orang tuanya yang puluhan tahun lalu hijrah ke kawasan Kubang, saat listrik belum ada dan jalan berlumpur seperti bubur.
“Orang tua saya PNS. Banyak yang meragukan mimpi beliau membangun kebun binatang di sini. Tapi beliau yakin,” tutur Agustina dengan mata berkaca. Keyakinan itu akhirnya berbuah. Lebih dari tiga dekade berlalu, kawasan yang dulu sunyi kini menjadi tujuan rekreasi dan edukasi satwa.
Namun tantangan tak pernah benar-benar pergi. Pemadaman listrik berjam-jam kerap mengancam telur-telur satwa di dalam inkubator. Dalam kondisi itu, waktu menjadi musuh.
“Dengan solar panel ini, kami tidak lagi bergantung sepenuhnya pada listrik ketika padam. Telur merak, kakatua, kura-kura, dan satwa lainnya kini punya peluang hidup lebih besar,” katanya.
PLTS bekerja dengan mengubah sinar matahari menjadi energi listrik yang disimpan dalam baterai dan digunakan untuk kebutuhan vital konservasi. Energi bersih ini menjadi bukti bahwa masa depan pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan teknologi.
Di Kasang Kulim, matahari kini bukan sekadar cahaya. Ia adalah sumber kehidupan, harapan, dan bukti bahwa kolaborasi antara manusia, teknologi, dan alam dapat menjaga denyut kehidupan satwa tetap menyala.