Oleh : Samantha Irva Nayla
BANK Indonesia (BI) sudah berdiri sejak tahun 1953, menggantikan De Javasche Bank yang merupakan peninggalan masa kolonial Belanda. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru resmi dibentuk pada tahun 2011 sebagai bagian dari reformasi sektor keuangan nasional.
Dengan demikian, OJK memang lebih muda dibanding BI, namun memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Kehadiran keduanya mencerminkan komitmen negara dalam memperkuat sistem keuangan yang sehat dan terpercaya. Meski dibentuk di era berbeda, BI dan OJK sama-sama menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagai bank sentral, BI bertugas menjaga agar nilai Rupiah tetap stabil. Hal ini bukan hanya menyangkut kurs mata uang, tetapi juga inflasi, daya beli masyarakat, hingga iklim investasi di dalam negeri.
Selain itu, BI juga memastikan sistem pembayaran berjalan dengan baik, baik melalui uang tunai maupun transaksi digital. Menariknya, rupiah termasuk salah satu mata uang dengan nominal terbesar di dunia.
Pecahan Rp100.000 misalnya, hanya bernilai sekitar 6–7 USD. Jadi, membawa segepok uang tunai belum tentu menunjukkan nilai yang besar jika dibandingkan dengan mata uang asing.
Di sisi lain, OJK berperan sebagai pengawas sektor jasa keuangan. Lembaga ini mengawasi berbagai aktivitas keuangan, mulai dari perbankan, pasar modal, hingga lembaga non-bank seperti asuransi dan fintech.
Dengan adanya OJK, masyarakat mendapat jaminan bahwa layanan keuangan lebih aman, transparan, dan terpercaya. Meskipun tugas keduanya berbeda, BI dan OJK saling melengkapi seperti dua sisi mata uang.
Kerja sama mereka menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Sinergi ini tidak hanya memastikan peredaran uang tetap terkontrol, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat mulai dari mendorong pertumbuhan ekonomi, melindungi konsumen, hingga membangun masa depan yang lebih baik.
Selain menjalankan tugas-tugas utamanya, BI dan OJK juga terus berinovasi dalam merespons dinamika ekonomi global dan perkembangan teknologi.
Di era digital seperti sekarang, tantangan baru bermunculan—mulai dari maraknya aset kripto, pesatnya pertumbuhan fintech, hingga meningkatnya ancaman kejahatan siber dalam sistem keuangan.
Untuk itu, BI dan OJK terus memperkuat koordinasi agar sistem keuangan nasional tetap adaptif dan terlindungi dari risiko-risiko tersebut.
Bank Indonesia, misalnya, tengah mendorong transformasi digital melalui sistem pembayaran nasional berbasis QR Code, yakni QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard).
Inovasi ini bukan hanya mempermudah transaksi masyarakat, tetapi juga mempercepat inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan.
Sementara itu, OJK juga tidak tinggal diam. Lembaga ini aktif mendorong literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai program edukasi keuangan ke seluruh penjuru negeri. Tujuannya sederhana tapi sangat penting: agar masyarakat memahami cara mengelola keuangan, mengenali risiko investasi bodong, serta lebih bijak dalam menggunakan produk dan layanan keuangan.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pelaku ekonomi yang cerdas dan mandiri.
BI dan OJK juga memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional.
Di tengah gejolak global seperti inflasi tinggi, krisis energi, atau ketidakpastian pasar internasional—keberadaan dua lembaga ini menjadi jangkar yang menstabilkan perekonomian dalam negeri. Mereka memastikan bahwa meskipun dunia sedang bergejolak, Indonesia tetap mampu menjaga daya tahan ekonominya.
Pada akhirnya, sinergi BI dan OJK bukan hanya soal regulasi dan pengawasan, tapi juga menyangkut masa depan bangsa.
Sistem keuangan yang stabil, inklusif, dan berkelanjutan akan membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkeadilan. Ini adalah fondasi penting untuk menciptakan Indonesia yang lebih tangguh, mandiri, dan siap bersaing di kancah global.
- Penulis adalah mahasiswi Institut Agama Islam Tazkia Sentul Bogor, Jawa Barat.