MediumPos
Untuk Ummat Kami Sampaikan

Kawanan Gajah Melintas di Kebun Sawit, Balai TN Tesso Nilo Ingatkan Pentingnya Ruang Hidup Satwa Liar

MP, PEKANBARU – Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan 14 ekor gajah sumatera melintas tenang di sebuah jalan tanah di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit. Dalam narasi video disebutkan bahwa lokasi tersebut berada di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau, Rabu ( 26/11/2025).

Dalam rekaman itu terlihat gajah dewasa hingga anak-anaknya berjalan beriringan melewati jalan yang dibuka menggunakan alat berat. Di depan rombongan, sebuah ekskavator tampak terhenti, seolah memberi ruang bagi satwa dilindungi tersebut untuk lewat. Pemandangan ini menyisakan keprihatinan, sebab jalur yang mereka lalui sejatinya dulunya adalah hutan alami atau rumah dan menjadi sumber makanan bagi gajah yang kini telah berubah menjadi kebun sawit.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, saat dikonfirmasi mengatakan belum dapat memastikan apakah lokasi dalam video tersebut benar berada di kawasan taman nasional.

“Saya belum konfirmasi ke lapangan. Yang jelas, saya melihat itu video lama, saya pernah lihat juga sebelumnya. Tapi saya pastikan lagi nanti setelah cek lapangan,” ujar Kepala Balai TNTN.

Meski begitu, Heru menegaskan bahwa jalur yang dilalui dalam video merupakan lintasan alami gajah.

“Gajah akan melintasi kembali jalur yang pernah mereka gunakan karena hewan ini dikenal memiliki daya ingat yang sangat kuat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Mereka punya jalur tradisional untuk melintas. Karena dulunya kawasan itu hutan, maka gajah kembali berjalan di situ.”

Melihat kondisi ini, Heru menekankan pentingnya memberikan ruang hidup bagi gajah sumatera, terutama di wilayah yang sudah berubah fungsi menjadi perkebunan. Menurutnya, pengelola lahan wajib menyediakan koridor kehidupan agar gajah tetap memiliki akses berpindah dan mencari makan tanpa mengganggu aktivitas manusia.

“Jika itu kawasan perkebunan, harus ada koridor khusus untuk mereka. Tidak seluruh lahan bisa dijadikan kebun sawit. Harus ada area yang disisakan sebagai jalur gajah dan ditanami tanaman hutan,” jelasnya.

Hal ini, kata Heru, sangat penting untuk mencegah konflik berkepanjangan antara gajah dan manusia.

“Kalau koridor tidak disiapkan, maka konflik dengan perkebunan, permukiman, maupun perusahaan akan terus terjadi,” tegasnya.

Sebagai informasi, pemerintah melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) terus melakukan penertiban terhadap lahan-lahan di kawasan TNTN yang telah berubah menjadi kebun sawit ilegal. Langkah ini bertujuan memulihkan kembali fungsi hutan yang menjadi paru-paru dunia sekaligus habitat alami satwa langka Indonesia, termasuk gajah sumatera.

Pemerintah juga menyerukan dukungan masyarakat untuk menjaga keberadaan hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

5 / 100 Skor SEO

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.