MP, KEPULAUAN MERANTI– Ancaman abrasi pantai terus membayangi kehidupan warga Desa Permai, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Terletak di tepi Selat Malaka—perbatasan alam antara Indonesia dan Malaysia—desa ini kini berada di ambang krisis lingkungan yang serius.
Pengikisan daratan akibat gelombang laut terus terjadi setiap tahun. Kepala Desa Permai, Azman, mengungkapkan kekhawatiran besar masyarakatnya, terutama saat memasuki bulan September.
“Kalau sudah masuk September, warga mulai resah dengan pasang besar dan ombak tinggi. Abrasi di sini bisa mencapai 15 hingga 20 meter setiap tahun,” ujar Azman saat dihubungi, Jumat (20/6/2025).
Azman menyebutkan, luas wilayah Desa Permai yang semula mencapai sekitar 45 kilometer persegi, kini hanya tersisa sekitar 20 kilometer persegi. Jalan poros desa yang dulunya berjarak satu kilometer dari bibir pantai, kini hanya berjarak 60 meter saja.
“Di sekitar jalan poros itu dulu ada kebun kelapa dan permukiman warga. Sekarang semuanya sudah hilang tergerus laut,” katanya.
Ironisnya, sejumlah fasilitas vital masyarakat pun ikut terancam. Tiga sekolah, kantor desa, rumah ibadah, hingga posyandu yang menjadi pusat layanan kesehatan warga berada di kawasan yang rawan abrasi.
“Kalau tidak segera dibangun batu pemecah ombak atau beronjong, bukan tidak mungkin lima tahun ke depan desa ini tinggal nama,” tegas Azman.
Menurutnya, solusi utama yang dibutuhkan adalah pembangunan pemecah ombak sepanjang 3,5 kilometer. Ia mengapresiasi upaya Pemerintah Provinsi Riau yang sebelumnya telah membangun beronjong sepanjang 500 meter. Namun, proyek tersebut dinilai belum mencukupi untuk menahan gempuran ombak.
“Saat ini pemerintah provinsi mengalami defisit anggaran, maka kami sangat berharap uluran tangan dari pemerintah pusat,” ujar Azman penuh harap. (Oki)