Oleh : Nadine Bertha Dendrobium Sagala (Mahasiswi HI 2019 Universitas Riau)
DENGAN kemajuan waktu dan teknologi, dunia global yang mengaburkan teritorial antar negara membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat. Karena kemudahan teknologi internet modern, saat ini tidak jarang kita mempunyai teman atau kenalan dengan orang-orang dari negara lain, atau bahkan berbeda benua.
Akibatnya, proses komunikasi menjadi sangat luas dan tidak terbatas bukan hanya pada teman dan keluarga, tetapi juga mencakup komunikasi global atau internasional.
Komunikasi internasional dipahami dan ditafsirkan dari sudut pandang ilmiah sebagai studi tentang data dan informasi dari perbatasan negara.
Komunikasi internasional terkait erat dengan konsepsi politik dan interaksi antara dua negara atau lebih.
Menurut wikipedia, komunikasi internasional adalah tindakan komunikator yang bertindak sebagai perwakilan negaranya dalam menyampaikan pesan dan informasi kepada perwakilan dari negara lain yang relevan dengan kepentingan negara tersebut.
Kemajuan teknologi informasi atau Information Technology (IT) dan komunikasi adalah inti dari globalisasi. Globalisasi adalah proses perluasan dan pendalaman hubungan internasional di semua bidang keberadaan manusia, mulai dari masyarakat hingga budaya, kejahatan, ekonomi, dan jiwa. Budaya, di sisi lain, adalah konsep yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang dan mengandung ide serta konsep yang ada dalam pikiran manusia.
Tak hanya Jepang, Korea Selatan telah memantapkan dirinya sebagai penyedia budaya pop melalui acara hiburan dan telah terbukti menjadi pesaing yang kuat.
Melalui globalisai inilah pengaruh dari Kpop ini mulai berkembang. Kpop atau Korean Pop merupakan sebuah genre musik yang populer dan berasal dari Korea Selatan. Kpop ini biasanya dibawakan oleh grup kpop yang terdiri dari beberapa anggota, namun ada pula penyanyi solo yang menyanyikan lagu ber genre kpop ini. Kpop ini merupakan bagian dari Korean Wave yang tak dapat dihindari dikarenakan adanya proses globalisasi.
Korea Selatan berhasil meracuni masyarakat dunia khususnya bagi para remaja untuk menyukai mereka. Hal ini tentunya mendatangkan banyak pengaruh baik pagi Korea Selatan seperti pada ekonomi, pariwisata, hingga politik pemerintahannya. Korean Wave ini sangat berhasil untuk ‘menyuntik’ banyak negara khususnya pada Indonesia.
Hallyu adalah sebuah istilah yang diberikan oleh Jurnalis asal China pada tahun 2001 karena perkembangan pesat kebudayaan korea yang berkembang di negaranya pada saat itu.
Globalisasi budaya Korea sangat erat kaitannya dengan peran media. Media adalah wadah yang membawa nilai nilai budaya Korea yang menyukseskan persebaran kebudayaan korea yang disebut dengan hallyu.
Media yang paling memiliki peran besar adalah televisi dimana melalui televisi, drama drama korea dapat disiarkan dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Keberhasilan televisi dalam memfasilitasi adopsi cita-cita budaya Korea di Indonesia menghasilkan efek kaskade dalam musik dan film. VCD, DVD, dan internet merupakan contoh media yang menyampaikan produk budaya Korea ke masyarakat Indonesia.
Dalam globalisasi budaya Korea, internet mungkin menjadi media yang paling signifikan. Metode pemerintah untuk memfasilitasi globalisasi budaya adalah dengan mendukung seniman dengan beasiswa dan memasukkan hallyu dalam program globalisasi pemerintah Korea, yang dikenal sebagai segyehwa. Awal tahun 2000-an adalah tahun dimana budaya korea mulai hadir di Indonesia, ditandai dengan mulai masuknya siaran drama korea yang menghiasi layar kaca Indonesia.
Mudahnya budaya korea masuk dan mendapat tempat di hati masyarakat diduga karena memberi nafas baru dalam dunia hiburan yang selama ini diisi oleh kebudayaan Holywood.

Di Indonesia, drama “Endless Love,” yang disiarkan oleh jaringan televisi swasta (Indosiar) pada Juli 2002, memicu pertumbuhan hallyu. Kepopuleran hallyu di Indonesia memiliki beberapa dampak, antara lain keinginan/minat masyarakat untuk belajar bahasa Korea, meningkatnya minat masyarakat terhadap barang-barang Korea, meningkatnya minat untuk meneliti Korea, dan munculnya persatuan masyarakat Indonesia dengan masyarakat Korea. Selain popularitas hallyu, bahasa Korea juga populer di kalangan penggemar hallyu.
Tak hanya itu, berdirinya berbagai organisasi studi bahasa Korea di Indonesia, seperti King Sejong Institute, menunjukkan antusiasme masyarakat dalam mempelajari bahasa Korea. King Sejong Institue adalah lembaga bahasa Korea yang disetujui pemerintah yang menerima dana langsung dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata serta Yayasan Globalisasi Bahasa Korea.
Pembukaan Lotte Duty Free, pengecer bebas pajak dari Korea, di Jakarta adalah contoh lain dari pengaruh hallyu. Gerai luar negeri pertama Lotte Duty Free ada di Jakarta, tepatnya di Bandara Soekarno-Hatta.
Selain itu, dinamika minat publik yang besar untuk studi Korea dibentuk oleh pembentukan INAKOS, Asosiasi Internasional untuk Studi Korea di Indonesia. INAKOS didirikan pada tanggal 7 Mei 2009 dengan persetujuan lulusan Indonesia dari Korean University.
Para alumni muncul dengan ide untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang lihai dan memiliki minat terhadap studi Korea. Sekaligus mempererat ikatan persahabatan yang terjalin antara orang Indonesia dan Korea Selatan.
Hal ini terlihat pada awal tahun 2012, ketika penggemar BIGBANG Indonesia mengumpulkan dana untuk membagikan “Rice Bouquet” kepada penggemar Indonesia yang menghadiri acara artis tersebut. Mereka mengumpulkan 150 kg karangan bunga beras dan menyumbangkannya kepada orang-orang yang membutuhkan di Korea Selatan. *