MP, PEKANBARU – Polda Riau menggelar apel pemberangkatan Satuan Tugas (Satgas) Darurat Merah Putih Presisi Tahap II ke satuan wilayah (satwil) jajaran, di Mapolda Riau, Jalan Patimura, Pekanbaru, Rabu pagi (15/04/2026).
Apel tersebut dipimpin langsung oleh Wakapolda Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi, yang sekaligus memberikan arahan kepada seluruh personel yang terlibat dalam pengamanan proyek strategis tersebut.
Dalam amanatnya, Wakapolda menegaskan bahwa Satgas Darurat Jembatan Merah Putih merupakan bagian dari proyek infrastruktur strategis yang memiliki nilai penting, tidak hanya dari sisi ekonomi dan konektivitas, tetapi juga sebagai simbol kebanggaan masyarakat Indonesia, khususnya Provinsi Riau.

Menurutnya, keberadaan jembatan tersebut akan membuka akses antarwilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, setiap potensi gangguan terhadap keamanan proyek harus diantisipasi secara serius, profesional, dan terpadu.
“Ini adalah wujud nyata komitmen Polda Riau dalam mendukung pembangunan infrastruktur demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Brigjen Hengki.
Ia juga menambahkan, pembangunan jembatan dilakukan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat melalui proses asesmen bersama pemerintah daerah.
“Program ini bersifat bottom-up, berdasarkan kebutuhan masyarakat. Kita melihat langsung kondisi di lapangan, termasuk anak-anak sekolah yang masih harus menggunakan sampan untuk berangkat. Ini menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.
Menurutnya, pada tahap sebelumnya sebanyak 27 jembatan telah selesai dibangun. Sementara pada tahap kedua ini, kembali dilanjutkan pembangunan sebanyak 83 jembatan.
“Harapannya, program ini benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Sesuai arahan Presiden, kita ingin memastikan keselamatan mereka saat berangkat ke sekolah,” lanjutnya.
Dalam tahap II ini, sebanyak 120 personel diberangkatkan, yang terdiri dari 70 personel Satbrimob, 30 personel Ditsamapta Polda Riau, serta 20 personel dari Ditpolair.
Ia menjelaskan, pelaksanaan pembangunan dan renovasi jembatan pada tahap ini mencakup 83 jembatan yang akan dikerjakan dalam dua gelombang. Gelombang pertama sebanyak 44 jembatan dimulai 15 April hingga 15 Mei 2026, sedangkan gelombang kedua sebanyak 39 jembatan dilaksanakan pada 16 Mei hingga 16 Juni 2026.
Dengan demikian, total target pembangunan jembatan di Provinsi Riau mencapai 110 jembatan.
“Konsep pentahelix menjadi dasar pelaksanaan program ini, yakni kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam semangat gotong royong membangun negeri,” ungkapnya.
Wakapolda juga menyebutkan bahwa seluruh wilayah kabupaten di Riau menjadi prioritas, dengan penilaian berdasarkan tingkat kebutuhan masyarakat, terutama akses pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil.
Adapun daerah dengan tingkat kesulitan tertinggi dalam pembangunan, lanjutnya, berada di Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Kepulauan Meranti.
“Di wilayah tersebut, kondisi geografis cukup menantang, sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus,” jelasnya.
Dalam arahannya, Wakapolda juga menekankan sejumlah hal penting kepada seluruh personel, di antaranya mengutamakan keselamatan jiwa, menjaga profesionalisme dan integritas, membangun komunikasi serta koordinasi yang solid, menjaga kondisi fisik dan mental, serta menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
Ia berharap seluruh personel Satgas dapat menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, loyalitas, dan dedikasi tinggi.
“Tunjukkan kepada masyarakat bahwa Polda Riau siap menjaga keamanan dan mendukung pembangunan daerah. Saya percaya dengan semangat kebersamaan, tugas ini dapat diselesaikan dengan baik, dan seluruh personel kembali dalam keadaan sehat dan selamat,” tutupnya.